Blogger templates

Pages

Sabtu, 08 September 2018

JIKA MELIHAT JIN...

MELIHAT JIN....
Kelemahan atau Kehebatan?

Jin adalah makhluk ghaib yg tergolong ghaib mutlak. Artinya, hanya Allah yg mengetahui hakikat jin.
 Untuk mendefinisikan jin, Syeikh Abu al-Barro' saya anggap paling jelas dan paling lengkap menjelaskannya.
 Definisi itu, sengaja saya tulis secara bernombor sebagai berikut :
(1). Jin merupakan sejenis makhluk yg memiliki jisim dan ruh.

(2). Dia berakal, memiliki keinginan dan dibebani hukum (mukallaf) sebagaimana manusia.

(3). Diciptakan dari api yang jernih dan terbaik.

(4). Tabiat penciptaan mereka memiliki hakikat yang hanya diketahui oleh Allah.

(5). Asal penciptaan mereka tidak dapat dirasakan oleh panca indera.

(6). Tabiat (alamiyah) dan bentuk mereka yg sebenarnya tidak dapat dilihat.

(7). Mereka punya kemampuan tamatsul (menyerupai) dan tasyakkul (menjelma).

(8). Mereka makan dan minum serta menikah dan berketurunan.

(9). Mereka akan menjalani hisab terhadap amal perbuatan mereka di akhirat.

(10). Tubuh jin itu, kadang "kasar" dan kadang "halus". Ini merupakan pendapat Ahlussunnah wal Jamaah.

(11). Alam jin memiliki undang-undang dan peraturan yg mereka jalani dalam menempuh hidup, mati dan sebagainya.
(Baca : Kitab Manhaj asy-Syar'i, hal. 23).
===

Lebih kurang itulah definisi yg cukup panjang disebutkan beliau.
 Penekanan saya adalah poin 4, 5, 6, 7 dan 10.

Syekh Mutawalli asy-Sya'rowi berkata :
(1). Syaitan (jin) dalam bentuk aslinya tidak dapat dilihat oleh manusia. Kerana syaitan berada diatas kemampuan (penglihatan) manusia.

(2). Akan tetapi jika jin menjelmakan diri dalam bentuk manusia (tamatsul) dan binatang (tasyakul), maka kita akan dapat melihatnya.

(3). Ketika syaitan menjelmakan diri dalam bentuk materi (benda), maka hukum materi itu berlaku pada dirinya.

(4). Jika dia menjelma dalam bentuk manusia, maka dia akan tunduk kepada hukum (yg berlaku) pada manusia. Jika ditembak, dia akan mati.

(5). Jika syaitan nampak dalam bentuk apa pun, penampakannya tidak akan berlangsung lama, lalu setelah itu menghilang. Karena dia tahu bahwa orang yg melihatnya dalam bentuk itu boleh membunuhnya.
(Baca : Kitab As-Sihr wa al-Hasad, hal. 38-39).

Pendapat Syekh asy-Sya'rowi dan Syekh Abul Barro saya jadikan dua hal yg saling menguatkan. Pendapat saya :
(1). Mengikut apa yg sudah dijelaskan Syiekh Abul Barro dalam definisi yg sudah disebutkannya bahwa hakikat jin hanya diketahui oleh Allah, panca indera (indera penglihatan, indera pendengaran, indera penciuman, indera perasa dan indera pencicip) tidak dapat mengetahui keberadaan jin dan mereka punya kemampuan menjelma dan menyerupai sesuatu dgn izin Allah kerana mereka boleh berubah menjadi tubuh "kasar".

(2). Mengikut pendapat Syiekh Sya'rowi yg mengatakan bahwa jika jin berubah bentuk, maka dia tunduk kpd qanun yg mengaturnya. Jika dia menjelma jadi manusia, maka dia boleh dibunuh.

(3). Penjelmaan jin tidak akan berlangsung lama, sebab dia tahu bahwa dia dalam kondisi lemah sehingga manusia boleh membunuhnya. Kerana itulah dia hanya mampu menampakkan penjelmaannya hanya sekilas.

(4). Setiap makhluk punya qonun dan aturan di alamnya. Jika dia keluar dari tabiat alamnya, dia akan lemah dan tunduk pada qanun makhluk yg lain.
Ikan hanya punya kekuatan dan mampu bertahan hidup jika dia berada di dalam air. Cacing akan hidup dengan leluasa jika berada di dalam tanah.
Manusia dan makhluk yg hidup di darat, akan bertahan lama hidup diatas bumi.
 Begitu juga dengan jin. Dia hanya kuat ketika berada di alamnya. Jika dia menjelma, dia lemah dan manusia mampu membunuhnya. Imam Ibnu Abid Dunia mengatakan "Jika kamu berani jin akan takut, tapi jika kamu takut jin akan berani".

(5). Mengapa dukun, boleh berdialog dengan jin dalam waktu yg sangat lama. Padahal dia dalam keadaan yg lemah saat menjelma berhadapan dgn sang dukun?
 Kerana dia tahu, bahwa sang dukun sedang dalam keadaan yg sangat lemah.
Cuba bayangkan jika ada ustadz, kyai atau peruqyah dapat melihat jin dan berbicara dalam waktu lama seperti dalam film horor spt Munafik 1 dan Munafik 2, apakah dia lemah atau kuat?

Itu saja yg saya ingin sampaikan bahwa kemampuan boleh melihat jin dan berbicara dengannya adalah bentuk kelemahan manusia dihadapan jin.
Berbeza dengan para Nabi, sahabat dan salafussaleh yg mereka dalam bimbingan Allah.
Jadi, bedakan penampakan di zaman old dikalangan mereka dan zaman now dikalangan manusia spt kita.

 Jika ada waktu dan masa, nanti akan saya jelaskan perbedaan kedua zaman itu dlm hal melihat penampakan jin.

 Wallahu a'lam.

Menjelang Maghrib di Medan, 8 September 2018
Musdar Bustamam Tambusai
(Founder MATAIR / Majlis Talaqqi Ilmu Ruqyah, Medan - Indonesia)

FB Musdar Bustamam Tambusai

Repost by

Ruqyah Syar'iyyah Cilacap/ RSC

www.ruqyahcilacap.blogspot.co.id

0 komentar:

Posting Komentar